Rabu, 11 September 2013

Belajar dari “Mr. Gengsi”




Siapa si yang nggak pernah ngerasain rasa yang satu ini? Yap! rasa mempertahankan harga diri yang berlebihan or nggak mau terlihat kekurangan yang meleleh bertabur rasa sedikit kesombongan  yang renyah ditambah toping perasaan takut salah yang rasanya nyes banget (emang makanan). Nah lho Positive nggak tu? Pasti enggak kan? But ternyata dibalik Kenegativan yang tersemat dari Mr. Gengsi ini gw punya kisa heroik membawa gue pada perubahan . Nggak percaya? Nah baca deh ya makanya. Kali-kali aja bisa diambil hikmahnya.
Kisah pertama dari gengsi memakai Jilbab. Haha kalau ngenang kisah ini lucu banget deh, secara kisah ini gue alami waktu gue masih kelas 6 SD. Suatu hari gue jalan-jalan ke Jawa, kerumah sodara-sodara yang ada dijawa. Singkat cerita sebelum gue kerumah saudara, sebagai anak kecil yang centil dan ingin terlihat yang terbaik, gue pakai pakaian terbaik gue, termasuk memakai jilbab ala-ala bocah kelas 6. Sesampai dirumah saudara gue dipeluk erat oleh bulek-paklek dan saudara saudara yang lain. Yang bikin gue tersanjung riang gembira tak terkira adalah saat mereka bilang gue cantik banget karena memakai jilbab (nah lho  emang udah pernah mereka liat gue gak pakai jilbab). Jiah hati ini rasanya melayang nggak karuan. Nah sejak saat itu Karna udah keburu dibilang cantik dengan memakai jilbab, wal hasil gue nggak pernah membuka jilbab, walaupun baju dan rok yang gue pakai nggak berlengan panjang,,, tetep aja tu jilbab gue putusin nggak boleh lari dari kepala gue, nah satu lagi yang gue fikirin ketika itu, gue kepingin dibilang soleh dan anak baik. Jiaaah makin lengket deh tu jilbab. Akhirnya sang komitmen berlandaskan gengsi itu gue bawa sampai kembali kekalimantan barat. Dengan alasan yang sama gue tetep pertahankan ini jilbab, yah walaupun banyak banget temen yang menyayangkan keputusan gue. Dibilang sok alim lah, sombongla abis dari jawa, nggak keliatan cantiklah Lagila, anehlah, coz kala tetep pakai jilbab walau berpakaian mini (nah lhoo) ... tapi semua itu gue tepis agar dapat gelar soleha dengan segala kekurangan gue. But Alhamdulillah Allah memberikan keistiqomahan sampai Sekarang.
Inti dari cerita gue yang pertama ini adalah: Berikanlah pujian kepada anak-anak sepositive mungkin, karna anak kecil punya khayalan yang besar dan tinggi, anak tu ibarat adonan siap dibentuk jadiapapun, tergantung orang tua, tergantung didikannya. Dan nggak akan ada yang bisa ngalahin obsesinya termasuk perasaannya yang lugu. Dan ingat menjudges anak negativ 1X didepan anak nggak akan bisa diganti dengan menjudges anak positive dengan 1000X. Gue ngerasa itu! :D
Nah ini Kisah kedua tentang si kaos kaki korban penyalahgunaan. Kisah ini terjadi waktu masa-masa gue di Pondok MA (Madrasah Aliyah) . Singkat cerita gue terjangkit serangan koreng yang menyebabkan kaki gue korengan( yah maklum lah, penyakit anak Pondok). Malangnya ko***gan itu bener-bener menjijikan sampai gue harus mutusin untuk memakai kaos kaki untuk menutupi tu si Mr. Koreng. Dan nggak disangka-sangka perubahan penampilan gue dengan kaos kaki yang nggak lepas-lepas kala itu tercium oleh seorang santri putra yang entah sejak kapan jadi perhatian dengan gue, bahkan gue dibilang wanita yang soleha dengan menjaga auratnya termasuk kaki (Nah lhoo kenak deh lho, ini kaos kaki buat nutupin ko**ng mas, akh, bang.... ckckckck #Tepokjidat). Akhirnya karna perhatian dia yang waw maka hati gue pun klepek-klepek dengan tu orang. Yah secara perhatiannya itu nggak pernah gue dapet dimanapun, haha..., emm sosok dia yang baik, soleh, lucu, menambah bunga-bunga bermekaran #STOP. Cukup sampai disini khayalannya, itu dulu... dan diantara kita tidak ada apa-apa coz gue juga nggak mau pacaran. Dan dia pun menganggap kue sebatas adik #ea...
Adu.. adu.. kok jadi kemana-mana ceritanya. Kita balik kecerita kaos kaki. Nah karna udah terlanjur dibilang solehah, trus udah ada hati-hati yang bermekaran akhirnya gue semakin semangat memakai kaos kaki. Yang awalnya kadang pakai kadang enggak, berkat tu orang... kaos kaki ini nemplok terus kekaki gue walaupun lagi nggak korengan. Hahaha jangan ditiru ya niatnya.
Dan ketika dia lulus, itu adalah hari terberat gue,,, keistiqomahan tanpa motivasi itu bener-bener sulit. Dan Alhamdulillah lama kelamaan gue sadar bahwa motivasi yang abadi adalah motivasi dari ALLAH SWT. Bukan dari manusia. So hiduplah untuk ALLAH kalau nggak mau kecewa. Cos hadia h dekat dengan Allah itu surga . ^_^
Nah hikmah dari sang Mr. Gengsi adalah:
1.     1.   Mr. Gengsi nggak selalu salah, asal ke gengsian lho nggak melenceng alias positive.
2.   2.     Allah itu nggak serta merta menciptakan segalanya. Selalu ada hikmah dibaliknya, dan Mr. Gengsi inilah saksinya.
3.     3.   Menumbuhkan keikhlasan n motivasi karna Allah itu nggak semudah membalik gorengan. Butuh proses, butuh perjuangan dan bisa jadi berawal dari motivasi karena orang.
4.     4.   Kalau lho bilang niat lho belum lurus untuk ngelakuin hal yang positive, itu salah gan tapi bener juga si.. he... Salahnya lho nggak pernah tau kapan hidayah itu muncul, jadi kalo lho nggak segera lakuin hal yang positive. Maka negative lah hidup lho!  Benernya memang segala sesuatu dan motivasi untuk beribadah dan melakukan hal positive adalah karna ALLAH, tapi lho nggak bisa biarin hidayah itu nganggur gan!

Sekian smoga coretan ini bermanfaat. ^_^

#Bahasa tulisan mendadak berubah LHO n GUE :D


1 komentar: