Siapa si yang
nggak pernah ngerasain rasa yang satu ini? Yap! rasa mempertahankan harga diri yang
berlebihan or nggak mau terlihat kekurangan yang meleleh bertabur rasa sedikit kesombongan
yang renyah ditambah toping perasaan takut salah yang rasanya nyes banget (emang makanan). Nah lho Positive nggak tu? Pasti enggak kan? But
ternyata dibalik Kenegativan yang tersemat dari Mr. Gengsi ini gw punya kisa
heroik membawa gue pada perubahan . Nggak percaya? Nah baca deh ya makanya. Kali-kali
aja bisa diambil hikmahnya.
Kisah pertama
dari gengsi memakai Jilbab. Haha kalau ngenang kisah ini lucu banget deh,
secara kisah ini gue alami waktu gue masih kelas 6 SD. Suatu hari gue
jalan-jalan ke Jawa, kerumah sodara-sodara yang ada dijawa. Singkat cerita
sebelum gue kerumah saudara, sebagai anak kecil yang centil dan ingin terlihat yang
terbaik, gue pakai pakaian terbaik gue, termasuk memakai jilbab ala-ala bocah
kelas 6. Sesampai dirumah saudara gue dipeluk erat oleh bulek-paklek dan saudara saudara yang lain. Yang bikin gue
tersanjung riang gembira tak terkira adalah saat mereka bilang gue cantik
banget karena memakai jilbab (nah lho
emang udah pernah mereka liat gue gak pakai jilbab). Jiah hati ini
rasanya melayang nggak karuan. Nah sejak saat itu Karna udah keburu dibilang
cantik dengan memakai jilbab, wal hasil gue nggak pernah membuka jilbab,
walaupun baju dan rok yang gue pakai nggak berlengan panjang,,, tetep aja tu
jilbab gue putusin nggak boleh lari dari kepala gue, nah satu lagi yang gue
fikirin ketika itu, gue kepingin dibilang soleh dan anak baik. Jiaaah makin
lengket deh tu jilbab. Akhirnya sang komitmen berlandaskan gengsi itu gue bawa
sampai kembali kekalimantan barat. Dengan alasan yang sama gue tetep pertahankan
ini jilbab, yah walaupun banyak banget temen yang menyayangkan keputusan gue. Dibilang
sok alim lah, sombongla abis dari jawa, nggak keliatan cantiklah Lagila,
anehlah, coz kala tetep pakai jilbab walau berpakaian mini (nah lhoo) ... tapi
semua itu gue tepis agar dapat gelar soleha dengan segala kekurangan gue. But
Alhamdulillah Allah memberikan keistiqomahan sampai Sekarang.
Inti dari
cerita gue yang pertama ini adalah: Berikanlah pujian kepada anak-anak
sepositive mungkin, karna anak kecil punya khayalan yang besar dan tinggi, anak tu ibarat adonan siap dibentuk jadiapapun, tergantung orang tua, tergantung didikannya. Dan nggak
akan ada yang bisa ngalahin obsesinya termasuk perasaannya yang lugu. Dan ingat
menjudges anak negativ 1X didepan anak nggak akan bisa diganti dengan
menjudges anak positive dengan 1000X. Gue ngerasa itu! :D
Nah ini Kisah
kedua tentang si kaos kaki korban penyalahgunaan. Kisah ini terjadi waktu
masa-masa gue di Pondok MA (Madrasah Aliyah) . Singkat cerita gue terjangkit
serangan koreng yang menyebabkan kaki gue korengan( yah maklum lah, penyakit
anak Pondok). Malangnya ko***gan itu bener-bener menjijikan sampai gue harus
mutusin untuk memakai kaos kaki untuk menutupi tu si Mr. Koreng. Dan nggak
disangka-sangka perubahan penampilan gue dengan kaos kaki yang nggak
lepas-lepas kala itu tercium oleh seorang santri putra yang entah sejak kapan
jadi perhatian dengan gue, bahkan gue dibilang wanita yang soleha dengan
menjaga auratnya termasuk kaki (Nah lhoo kenak deh lho, ini kaos kaki buat
nutupin ko**ng mas, akh, bang.... ckckckck #Tepokjidat). Akhirnya karna
perhatian dia yang waw maka hati gue pun klepek-klepek dengan tu orang. Yah secara
perhatiannya itu nggak pernah gue dapet dimanapun, haha..., emm sosok dia yang
baik, soleh, lucu, menambah bunga-bunga bermekaran #STOP. Cukup sampai disini
khayalannya, itu dulu... dan diantara kita tidak ada apa-apa coz gue juga nggak
mau pacaran. Dan dia pun menganggap kue sebatas adik #ea...
Adu.. adu..
kok jadi kemana-mana ceritanya. Kita balik kecerita kaos kaki. Nah karna udah
terlanjur dibilang solehah, trus udah ada hati-hati yang bermekaran akhirnya
gue semakin semangat memakai kaos kaki. Yang awalnya kadang pakai kadang
enggak, berkat tu orang... kaos kaki ini nemplok terus kekaki gue walaupun lagi
nggak korengan. Hahaha jangan ditiru ya niatnya.
Dan ketika dia
lulus, itu adalah hari terberat gue,,, keistiqomahan tanpa motivasi itu
bener-bener sulit. Dan Alhamdulillah lama kelamaan gue sadar bahwa motivasi
yang abadi adalah motivasi dari ALLAH SWT. Bukan dari manusia. So hiduplah
untuk ALLAH kalau nggak mau kecewa. Cos hadia h dekat dengan Allah itu surga .
^_^
Nah hikmah dari sang Mr. Gengsi adalah:
1. 1. Mr.
Gengsi nggak selalu salah, asal ke gengsian lho nggak melenceng alias positive.
2. 2. Allah
itu nggak serta merta menciptakan segalanya. Selalu ada hikmah dibaliknya, dan
Mr. Gengsi inilah saksinya.
3. 3. Menumbuhkan
keikhlasan n motivasi karna Allah itu nggak semudah membalik gorengan. Butuh proses,
butuh perjuangan dan bisa jadi berawal dari motivasi karena orang.
4. 4. Kalau
lho bilang niat lho belum lurus untuk ngelakuin hal yang positive, itu salah
gan tapi bener juga si.. he... Salahnya lho nggak pernah tau kapan hidayah itu
muncul, jadi kalo lho nggak segera lakuin hal yang positive. Maka negative lah
hidup lho! Benernya memang segala
sesuatu dan motivasi untuk beribadah dan melakukan hal positive adalah karna
ALLAH, tapi lho nggak bisa biarin hidayah itu nganggur gan!
Sekian smoga
coretan ini bermanfaat. ^_^
#Bahasa tulisan mendadak berubah LHO n GUE :D